Kearifan Budaya Arfak, Ighya Ser Hanjob, Berdiri Jaga Batas

17 November 2019


Suku Arfak adalah salah satu suku terbesar di Provinsi Papua Barat yang memiliki hak ulayat di wilayah Manokwari. Di tengah perkembangan dan tantangan zaman, salah satu filosofis masyarakat Arfak, Ighya Ser Hanjob kini mengalamai benturan dan tantangan luar biasa. Untuk itu, masyarakat Arfak perlu meresposisi diri sehingga tidak asing di lingkungannya sendiri. Suku Arfak adalah salah satu suku terbesar di Provinsi Papua Barat yang memiliki hak ulayat di wilayah Manokwari. Di tengah perkembangan dan tantangan zaman, salah satu filosofis masyarakat Arfak, Ighya Ser Hanjob kini mengalamai benturan dan tantangan luar biasa. Untuk itu, masyarakat Arfak perlu meresposisi diri sehingga tidak asing di lingkungannya sendiri.

Suku Besar Arfak terdiri dari beberapa sub suku seperti  Moule, Meyah, Moskona, Mansim Borai, Kebar-Karon Timur (Mpur), Sough dan Hatam. Suku ini mendiami wilayah adat mulai dari Tembuni, Bintuni, Merdey, Meyah, Moskona, Testega, Anggi, Sururey, Isim, Ransiki, Minyambouw, Warmare, Manokwari, Pantai Utara Manokwari dan daerah lainnya di Kabupaten Teluk Bintuni dan Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat.

Kawasan Pegunungan Arfak yang tepat berada di kepala burung tanah Papua merupakan bagian yang tak  terpisahkan dari kehidupan masyarakat Arfak. Masyarakat suku Hatam (sub suku besar Arfak) menyebut kawasan ini dengan nama ‘Ndon’. Pegunungan Arfak berada pada ketinggian 100-2800 m di atas permukaan laut dan cuaca di sekitarnya 16-30 derajat celsius.Jumlah penduduk yang menghuni kawasan ini sekitar 14.000 jiwa yang terdiri dari suku Hatam di bagian Utara, Suku Moule, Meyah di bagian Baat dan suku Sough di bagian Selatan.

Kawan ini merupakan sumber kehidupan dan inspirasi bagi masyarakat Arfak dan inspirasi utama bagi masyarakat Arfak. Dan pada tahun 1992 sebagian besar kawasan Pegunungan Arfak ditetapkan menjadi kawasan cagar alam. Masyarakat Arfak terutama yang bermukim di kawasan ini memiliki nilai dan kearifan budaya yang dikenal dengan nama Ighya Ser Hanjob yaitu berdiri menjaga batas.

Secara filosofis nilai ini mengandung makna bahwa segala yang ada di alam ini (termasuk manusia) memiliki batas. Bila batas tersebut dilanggar maka bencana akibatnya. Hakikat kosmologi suku Arfak adalah segala sesuatu (di alam semesta) bukanlah hal yang tidak terbatas (ad Infinitum).

Sebagai sebuah nilai, Ighya Ser Hanjob merupakan landasan hidup masyarakat Arfak sehari-hari. Dan pada masyarakat Arfak dikenal budaya ‘henjabti’. Menjelang matahari terbit, semua anggota keluarga dibangunkan kemudian diingatkan kembali tentang identitas hubungan antara manusia dan bagaimana menjaga harmoni manusia dengan alam. Nilai Ighya Ser Hanjob terpelihara melalui tradisi lisan sampai saat ini.

Ighya Ser Hanjob selain mengatur tentang pengelolaan sumber daya alam secara tradisional, juga mengatur tentang masalah sosial di kalangan masyarakat Arfak. Sejak kecil, anak-anak Arfak mulai diajarkan berlaku jujur, adil dan  bijaksana. Semua ada batasnya dan setiap orang diharuskan menjaga batas tersebut untuk kelangsungan hidupnya.

Dan dalam budaya masyarakat suku  Arfak, terdapat struktur adat yang terdiri dari Andigpoy (Kepal Adat), Pinjoydig (pembantu tugas kepala adat), Pinjoi Piley (epalsana tugas). Semua elemen institusi adat harus menjalankan tugasnya sesuai nilai-nilai yang bersumber dari Ighya Ser Hanjob.

Nilai-nilai Ighya Ser Hanjob juga terlihat dalam pengelolan sumber daya alam. Pada masyarakat adat Hatam dikenal kawasan bahamti yaitu wilayah hutan primer yang tidak boleh diganggu sama sekali (wilayah perlindunganb alam), kemudian nimahamti yaitu wilayah yang boleh diambil hasil hutannya namun dalam jumlah yang terbatas serta susti yang merupakan kawasan pemanfaatan baik untuk berkebun maupun sebagai wilayah pemukiman. Dan dalam konteks penguasana wilayah, tiap wilayah adat memiliki hanjob atau batas masing-masing.

SDA: Penguasaan dan Pemaknaan
Masyarakat Papua khususnya masyarakat adat Arfak mengenali hak atas sumber daya alam melalui kepemilikan komunal (menurut klan) dan marga atau keret. Dalam konteks penguasaan sumber daya alam, ada beberapa nilai yang dianut masyarakat suku Arfak sebagai landasan. Pertama, komunitas masyarakat adat menganggap bahwa tanah, hutan dan air merupakan milik masyarakat adat yang diatur oleh pimpinan adat berdasarkan aturan adat yang dianutnya, Kedua, dan hak itu diwariskan secara turun temurun pada suatu marga.

Pola kepemilikan dan penguasaan sumber daya alam dikelompokan dalam tiga pola yaitu melalui warisan, invasi ke wilayah kelompok marga lain dan ekspansi ke wilayah baru. Pewarisan kepemilikan dan penguasaan lahan didasarkan pada silsilah dan keturunan.

Hak kepemilikan dan pengusaan sumber daya diamanatkan dari leluhur ke anak sulung suatu marga. Pola pewarisan ini menganut kepemilikan dan penguasaan secara komunal dalam suatu keturunan. Adapun kepemilikan dan pengusaan wilayah melalui invasi suatu marga ke wilayah lain marga lain dengan cara perang.

Kelompok marga yang menang akan menguasi marga yang kalah termasuk berhak menguasai seluruh sumber daya yang ada. Sementara kepemilikan dan penguasaan wilayah dan sumber daya dilakukan melalui penjelajahan ke wilayah baru akibat perang atau bencana alam.

Masyarakat adat Papua mengenal batas-batas hak adat misalnya dalam bentuk pohon besar, gunung, sungai, rawah dan sebagainya. Orang asli Papua termasuk suku Arfak selalu menghindari untuk melakukan pelanggaran hak adat atas tanah dan sumber daya alam lainnya. Terlebih terhadap gunung, sungai, rawah, danau, gua karena dianggap keramat dan pelanggaran terhadap kawasan tersebut dapat membawah malapetaka berupa penyakit dan bencana alam.

Nilai adat  yang dianut masyarakat adat Papua terutama yang berada di wilayah kepala Burung pulau Papua adalah lahan ataupun hutan memiliki nilai sosial, ekonomi dan nilai budaya religius. Oleh karena itu, komunitas adat (suku/marga) selalu berusaha untuk memiliki tanah seluas-luasnya untuk dapat mempertahankan keberlangsungan hidup komunitas dan warisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Singkat kata, hutan bagi masyarakat adat Papua telah berkembang dan menyatu dengan sistem sosial budaya yang dianut. Mereka menerapkan kearifan tradisonal yang dipercaya mempertahankan hutan sebagai sumber penghidupan.

Mengingat tanah dimaknai sebagai ‘ibu kandung’ maka tanah akan halnya hutan tidak dapat diperjual-belikan. Jika mereka menjualnya sama saja menjual ibu kandungnya sendiri. Nilai-nilai ini tidak hadir pada ruang hampa sebab pemaknaannya mempengaruhi pola pengelolaan sumber daya alam oleh masyarakat adat.

Ighya Ser Hanjob masyarakat adat Arfak selain mengatur pengelolaan sumber daya alam secara tradisional, juga mengatur masalah sosial di kalangan masyarakat Arfak. Sejak kecil, anak-anak suku Arfak diajarkan nilai-nilai kehiduan seperti kejujuran, adil dan bijaksana pada dua aspek tersebut, semua ada batasnya dan setiap orang diharuskan menjaga batas tersebut untuk keberlangsungan hidupnya. Manusia dan alam adalah kesatuan kosmologi. Ighya Ser Hanjob bagi masyarakat Arfak adalah instrumen perekat kosmos. Sekiranya nilai ini diabaikan, maka manusia Arfak yang terikat pada nilai itu akan terasing dari kosmos dan ruang di mana mereka hidup dan inilah awal kepunahan mereka.

Sampai pada titik ini, sayangnya belum nampak sebuah kesadaran bahwa modernisme, kekuasaan dan praktek ekonomi berbasis keserahan berbasis hedonism semu secara nyata dan perlahan mulai mengikis nilai-nilai itu. Ini terlihat ketika semangat untuk mereviltalisasi nilai-nilai kearifan lokal tersebut sama sekali tak terjamah pada forum-forum resmi masyarakat adat Arfak. (tim)
Masyarakat Papua khususnya masyarakat adat Arfak mengenali hak atas sumber daya alam melalui kepemilikan komunal (menurut klan) dan marga atau keret. Dalam konteks penguasaan sumber daya alam, ada beberapa nilai yang dianut masyarakat suku Arfak sebagai landasan. Pertama, komunitas masyarakat adat menganggap bahwa tanah, hutan dan air merupakan milik masyarakat adat yang diatur oleh pimpinan adat berdasarkan aturan adat yang dianutnya, Kedua, dan hak itu diwariskan secara turun temurun pada suatu marga.

Pola kepemilikan dan penguasaan sumber daya alam dikelompokan dalam tiga pola yaitu melalui warisan, invasi ke wilayah kelompok marga lain dan ekspansi ke wilayah baru. Pewarisan kepemilikan dan penguasaan lahan didasarkan pada silsilah dan keturunan.

Hak kepemilikan dan pengusaan sumber daya diamanatkan dari leluhur ke anak sulung suatu marga. Pola pewarisan ini menganut kepemilikan dan penguasaan secara komunal dalam suatu keturunan. Adapun kepemilikan dan pengusaan wilayah melalui invasi suatu marga ke wilayah lain marga lain dengan cara perang.

Kelompok marga yang menang akan menguasi marga yang kalah termasuk berhak menguasai seluruh sumber daya yang ada. Sementara kepemilikan dan penguasaan wilayah dan sumber daya dilakukan melalui penjelajahan ke wilayah baru akibat perang atau bencana alam.

Masyarakat adat Papua mengenal batas-batas hak adat misalnya dalam bentuk pohon besar, gunung, sungai, rawah dan sebagainya. Orang asli Papua termasuk suku Arfak selalu menghindari untuk melakukan pelanggaran hak adat atas tanah dan sumber daya alam lainnya. Terlebih terhadap gunung, sungai, rawah, danau, gua karena dianggap keramat dan pelanggaran terhadap kawasan tersebut dapat membawah malapetaka berupa penyakit dan bencana alam.

Nilai adat  yang dianut masyarakat adat Papua terutama yang berada di wilayah kepala Burung pulau Papua adalah lahan ataupun hutan memiliki nilai sosial, ekonomi dan nilai budaya religius. Oleh karena itu, komunitas adat (suku/marga) selalu berusaha untuk memiliki tanah seluas-luasnya untuk dapat mempertahankan keberlangsungan hidup komunitas dan warisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Singkat kata, hutan bagi masyarakat adat Papua telah berkembang dan menyatu dengan sistem sosial budaya yang dianut. Mereka menerapkan kearifan tradisonal yang dipercaya mempertahankan hutan sebagai sumber penghidupan.

Mengingat tanah dimaknai sebagai ‘ibu kandung’ maka tanah akan halnya hutan tidak dapat diperjual-belikan. Jika mereka menjualnya sama saja menjual ibu kandungnya sendiri. Nilai-nilai ini tidak hadir pada ruang hampa sebab pemaknaannya mempengaruhi pola pengelolaan sumber daya alam oleh masyarakat adat.

Ighya Ser Hanjob masyarakat adat Arfak selain mengatur pengelolaan sumber daya alam secara tradisional, juga mengatur masalah sosial di kalangan masyarakat Arfak. Sejak kecil, anak-anak suku Arfak diajarkan nilai-nilai kehiduan seperti kejujuran, adil dan bijaksana pada dua aspek tersebut, semua ada batasnya dan setiap orang diharuskan menjaga batas tersebut untuk keberlangsungan hidupnya. Manusia dan alam adalah kesatuan kosmologi. Ighya Ser Hanjob bagi masyarakat Arfak adalah instrumen perekat kosmos. Sekiranya nilai ini diabaikan, maka manusia Arfak yang terikat pada nilai itu akan terasing dari kosmos dan ruang di mana mereka hidup dan inilah awal kepunahan mereka.

Sampai pada titik ini, sayangnya belum nampak sebuah kesadaran bahwa modernisme, kekuasaan dan praktek ekonomi berbasis keserahan berbasis hedonism semu secara nyata dan perlahan mulai mengikis nilai-nilai itu. Ini terlihat ketika semangat untuk mereviltalisasi nilai-nilai kearifan lokal tersebut sama sekali tak terjamah pada forum-forum resmi masyarakat adat Arfak. (tim)

sumber: kasuarinews.com



Kembali